SRAGEN, mediabhayangkara.id — Dalam rangka mendukung program swasembada pangan nasional, jajaran Polres Sragen bersama sejumlah polsek turun langsung ke area pertanian jagung di berbagai kecamatan untuk memastikan tanaman tumbuh optimal dan siap menopang target ketahanan pangan tahun 2026.
Dalam satu hari, Rabu (1/4/2026), sedikitnya lima wilayah hukum Polsek jajaran melakukan pengecekan langsung terhadap lahan baku sawah (LBS) yang ditanami jagung oleh masyarakat, yakni di Kecamatan Sumberlawang, Miri, Sukodono, Masaran, dan Gesi.
Kegiatan ini menjadi bagian dari pengawalan nyata terhadap implementasi program prioritas pemerintah yang terintegrasi dalam Asta Cita Presiden Republik Indonesia.
Pengecekan dilakukan tidak sekadar seremonial. Personel Polri mendatangi lahan, berdialog dengan petani, memeriksa pertumbuhan tanaman, memantau ketersediaan pupuk, hingga melihat kondisi pengairan dan potensi hasil panen.
Lahan Jagung Tumbuh Sehat, Potensi Panen Menjanjikan
Di wilayah Polsek Sumberlawang, pengecekan dilakukan di lahan milik Bapak Jon di Dukuh Sido Mulyo, Desa Ngandul. Di atas lahan seluas sekitar 1.300 meter persegi, tanaman jagung usia 40 hari terpantau tumbuh baik dengan tinggi antara 60 hingga 100 sentimeter. Daun tanaman berwarna hijau, pemupukan telah dilakukan dua kali, dan meski ditemukan sedikit serangan hama ulat, kondisi keseluruhan tanaman dinilai masih sehat. Panen diperkirakan berlangsung pada Mei 2026 dengan estimasi hasil sekitar 1 ton.
Sementara itu di Kecamatan Miri, personel Polsek melakukan pengecekan di lahan milik Bapak Wahyudi di Dukuh Brojol, Desa Brojol, dengan luas lahan mencapai 2.000 meter persegi. Jagung varietas NK Perkasa yang ditanam di lokasi tersebut telah berusia sekitar 2,5 bulan dengan tinggi tanaman mencapai sekitar 160 sentimeter, menandakan pertumbuhan yang baik dan produktif.
Di wilayah Sukodono, pengecekan dilakukan di lahan milik Bapak Bambang di Dukuh Karangpelem, Desa Karanganom. Tanaman jagung yang berusia 4 minggu di lahan seluas 800 meter persegi itu juga menunjukkan kondisi yang cukup baik. Struktur tanah datar, daun berwarna hijau, air dinilai mencukupi, dan tidak ditemukan serangan hama maupun penyakit dalam skala signifikan. Saat ini lahan masih dalam tahap pemupukan lanjutan.
Kondisi yang lebih progresif tampak di wilayah Masaran. Di lahan milik petani Sarijo di Dukuh Wonorejo, Desa Sepat, jagung yang ditanam di atas lahan sekitar 3.000 meter persegi telah memasuki usia 63 hari. Tanaman tumbuh sehat dengan tinggi rata-rata 169 hingga 171 sentimeter, memiliki 10 hingga 12 helai daun, serta diperkirakan mampu menghasilkan panen sekitar 2 ton. Meski pengairan hanya mengandalkan air hujan, pertumbuhan tanaman tetap stabil berkat pemupukan yang rutin dan ketersediaan pupuk yang lancar.
Adapun di wilayah Gesi, jajaran Polsek mengecek lahan jagung milik Bapak Rakidi di Dukuh Dawung, Desa Slendro. Di atas lahan seluas 1.500 meter persegi, tanaman jagung dilaporkan tumbuh subur dengan tinggi mencapai sekitar 180 sentimeter dan diperkirakan siap panen dalam waktu sekitar satu bulan satu minggu ke depan. Perkiraan panen ditargetkan sekitar 30 April 2026.
Kabag SDM Polres Sragen Kompol Joko Widodo, mewakili Kapolres Sragen AKBP Dewiana Syamsu Indyasari, menegaskan bahwa keterlibatan Polri dalam sektor pertanian merupakan bentuk dukungan nyata terhadap agenda besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.
Menurutnya, pendampingan dan pengecekan rutin terhadap lahan pertanian masyarakat menjadi langkah strategis agar potensi produksi pangan benar-benar terjaga sejak awal masa tanam hingga panen.
“Polri hadir mengambil peran aktif dalam mendukung program strategis nasional, termasuk swasembada pangan. Melalui pengecekan langsung ke lahan-lahan pertanian warga, kami ingin memastikan tanaman jagung tumbuh optimal, kendala petani bisa terdeteksi lebih awal, dan hasil panen ke depan semakin maksimal,” ujar Kompol Joko Widodo.
Ia menambahkan, sinergi antara aparat kepolisian, petani, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan di tingkat lokal. (Khnza Haryati)

Social Footer