Breaking News

Pahlawan dari Timur, Kisah Abdul Kahar Muzakkar, Sang Tameng Hidup Soekarno

 


JAKARTA, mediabhayangkara.id - Di tanah para pemberani, Sulawesi, lahirlah seorang pejuang dengan semangat baja dan jiwa patriot sejati Abdul Kahar Muzakkar. Ia bukan hanya sosok militer, melainkan simbol keberanian, kesetiaan, dan cinta tanah air yang membara. Nama besarnya menggetarkan bumi Nusantara, namun juga menyimpan kisah getir tentang cinta, pengkhianatan, dan perjuangan yang tak pernah padam.

 Dari Luwu untuk Indonesia

Terlahir di Luwu, Sulawesi Selatan pada 24 Maret 1920, dengan nama asli La Domeng, Kahar berasal dari keluarga bangsawan Bugis-Makassar. Sejak muda, ia sudah menunjukkan kecerdasan dan kepemimpinan. Pendidikan di Muallimin Muhammadiyah menanamkan nilai keislaman dan nasionalisme yang kelak menjadi dasar perjuangannya.

Ketika Jepang datang dengan janji palsu membebaskan Indonesia dari Belanda, Kahar sempat percaya. Namun setelah menyadari bahwa Nippon hanya menggantikan satu penjajahan dengan penjajahan lain, darah perlawanan dalam dirinya pun menyala. Ia melancarkan perlawanan terhadap pasukan Jepang bersama para pemuda Sulawesi.

 Lahirnya Sang Komandan Gerilya

Kahar kemudian membentuk berbagai organisasi pemuda seperti Gerakan Pemuda Indonesia Sulawesi (GEPIS), Angkatan Pemuda Indonesia Sulawesi (APIS), dan Angkatan Pemuda Indonesia (API). Ia melatih anak-anak muda untuk berjuang bukan karena pangkat, tapi karena kehormatan bangsa.

Namun berbeda dari tokoh-tokoh militer lainnya seperti Soedirman atau Nasution yang melalui kaderisasi resmi di PETA atau KNIL, Kahar memilih jalannya sendiri. Ia tidak tunduk pada sistem militer buatan kolonial. Ia adalah pejuang murni, lahir dari rahim rakyat.

 Tameng Hidup Soekarno

Momen yang membuat namanya dikenang adalah Rapat Raksasa Ikada pada 19 September 1945. Saat tentara Jepang mengepung Soekarno dan menodongkan bayonet ke arahnya, Kahar maju dengan gagah, memegang parang di tangan, dan berkata lantang,

“Tembuslah dadaku dengan bayonetmu sebelum engkau menyentuh Bung Karno!”

Sejak saat itu, Soekarno menaruh hormat padanya. Kahar menjadi pengawal setia sang Proklamator pengawal yang rela mati demi pemimpin bangsa.

 Antara Kesetiaan dan Ketegasan

Meski sangat mencintai Soekarno, Kahar mulai merasa tidak nyaman dengan sistem militer yang dibangun pasca-kemerdekaan. Ia melihat dominasi bekas tentara KNIL seperti Kawilarang, Warouw, dan Lembong dalam struktur militer, sementara pasukan yang ia bentuk tidak dihargai.

Kekecewaannya memuncak ketika pasukan Sulawesi yang ia pimpin APIS dan KRIS dipinggirkan dari jabatan strategis. Namun, Kahar tetap setia pada Republik. Ia menolak tunduk pada individu tertentu, bukan pada Indonesia.

 Dari TRIPS ke Komando Gerilya Sulawesi

Melihat potensinya, Panglima Besar Soedirman memberi Kahar kepercayaan untuk membentuk Tentara Republik Indonesia Persiapan Sulawesi (TRIPS). Pada usia 26 tahun, ia memimpin 1.200 pasukan yang disiplin dan berani.

Namun setelah tragedi pembantaian Westerling di Sulawesi Selatan, Kahar dituduh gagal mempertahankan wilayah dan semakin disingkirkan. Rasa kecewa itu membuatnya mengambil langkah ekstrem membentuk Komando Gerilya Sulawesi Selatan (KGSS) tanpa restu Presiden.

 Antara Pemberontak dan Pahlawan

Tahun-tahun berikutnya adalah masa penuh kontroversi. Kahar bergabung dengan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) sebuah langkah yang membuatnya dicap “pemberontak.” Namun bagi sebagian rakyat Sulawesi, ia bukan pengkhianat. Ia tetap dianggap pejuang sejati yang melawan ketidakadilan, bukan melawan bangsanya.

Kahar Muzakkar gugur pada 1965 di Sungai Lasolo, Sulawesi Tenggara menurut versi resmi. Namun, hingga kini, banyak yang percaya jasadnya tak pernah ditemukan dan bahwa ia tak pernah benar-benar mati, melainkan menghilang bersama semangat perjuangannya.

 Warisan Sang Pejuang

Abdul Kahar Muzakkar meninggalkan warisan abadi: jiwa merdeka, keberanian tanpa kompromi, dan cinta tanah air tanpa batas. Ia mungkin tidak diakui secara formal sebagai pahlawan nasional, tetapi bagi rakyat Sulawesi, namanya tetap hidup dalam setiap cerita tentang keberanian dan harga diri.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa tanpa luka, tetapi bangsa yang mampu menghormati setiap pejuangnya.”

Kisah Abdul Kahar Muzakkar, sang pahlawan dari timur yang namanya tak lekang oleh waktu.

sumber : historia.id

publikasi HR

Para Pembina Media Bayangkara Group

Para Pembina Media Bayangkara Group

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close