Halmahera Selatan,Maluku || Program “Sekolah Ladang” yang digagas PT. Harita Group melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) menuai kritik tajam dari warga Desa Kawasi, Kecamatan Obi, Kabupaten Halmahera Selatan. Warga menilai program tersebut tidak tepat sasaran dan cenderung hanya bersifat pencitraan belaka.
Menurut warga, konsep Sekolah Ladang yang berfokus pada bidang pertanian sangat tidak relevan dengan kondisi geografis dan karakter tanah di Desa Kawasi yang diketahui mengandung nikel secara merata. “Kalau sekolah Ladang dibangun di Kawasi, itu salah alamat. Lahan di sini tidak cocok untuk bertanam, semua tanah sudah bercampur kandungan nikel,” ujar Nurhayati salah satu warga, Kamis (6/11/2025).
Nurhyati menilai, pembangunan Sekolah Ladang di wilayah yang menjadi pusat industri nikel nasional dan termasuk dalam kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN) merupakan hal yang “aneh dan tidak masuk akal”. Menurutnya, kebutuhan masyarakat saat ini bukanlah pendidikan pertanian, melainkan pendidikan yang mendukung industri pertambangan dan teknologi pengolahan mineral.
“Kalau membangun Sekolah Pertambangan, itu baru tepat. Generasi muda yang lulus bisa langsung terserap bekerja di perusahaan. Tapi kalau Sekolah Ladang pertanian, itu tidak nyambung sama sekali dengan realitas ekonomi di sini,” tegasnya.
Ia juga menambahkan, jika dirinya seorang dosen, ia akan memberikan masukan keras kepada pihak perusahaan agar memahami konteks sosial-ekonomi masyarakat sekitar.
“Yang dibutuhkan masyarakat bukan pelatihan bertani di tanah nikel, tapi pendidikan yang bisa mengubah nasib mereka di tengah industri besar yang berdiri di kampung sendiri,” katanya dengan nada kesal.
Nur juga menilai program Sekolah Ladang hanya menghabiskan dana CSR perusahaan tanpa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat setempat.
“Kami tidak menolak CSR, tapi jangan asal bangun. Pahami dulu karakter wilayah dan kebutuhan masyarakat. Kalau hanya untuk pencitraan, lebih baik dananya dialihkan untuk pendidikan kejuruan tambang atau pelatihan alat berat,” Ucapnya
Warga berharap PT. Harita Group lebih serius dan terbuka dalam menyusun program CSR yang benar-benar berpihak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkar tambang, bukan sekadar proyek simbolik.
Rep_ags
“CSR itu seharusnya memberdayakan masyarakat, bukan sekadar program seremonial yang tidak punya dampak. Kami butuh sekolah vokasi pertambangan, bukan sekolah ladang di tanah nikel,” tutupnya
Hingga berita ini ditayangkan, pihak PT. Harita Group belum memberikan tanggapan resmi atas kritik warga Desa Kawasi terkait pembangunan Sekolah Ladang tersebut. (*)

Social Footer