Breaking News

Senator Lia Istifhama Ajak Guru Ngaji Perkuat Peran Sosial di Peringatan Harlah Gus Dur dan NU di Lamongan

 


Lamongan, mediabhayangkara.id — Peringatan Hari Lahir ke-16 Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang dirangkai dengan Hari Lahir Nahdlatul Ulama ke-103 berlangsung khidmat di Pondok Pesantren Roudlatud Darojat, Desa Banjarwati, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Rabu, 24 Desember 2025. 

Momentum ini tidak hanya menjadi ruang refleksi nilai-nilai keislaman dan kebangsaan, tetapi juga panggung penguatan peran guru ngaji dalam kehidupan sosial masyarakat.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, Lia Istifhama, hadir dan menyapa langsung para guru ngaji yang menjadi salah satu kelompok sasaran utama dalam kegiatan tersebut. 

Kehadiran senator yang akrab disapa Ning Lia,, disambut hangat oleh pengasuh pondok pesantren KH Mustaji, nyai serta para hadirin yang mayoritas berasal dari lingkungan pesantren dan komunitas keagamaan Banser.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, Ning Lia menegaskan bahwa guru ngaji memiliki posisi strategis dalam pembangunan sosial-keagamaan di tingkat akar rumput. Menurutnya, keberadaan guru ngaji bukan sekadar pengajar ilmu agama, melainkan penjaga nilai, akhlak, dan keberlanjutan pendidikan keislaman di tengah masyarakat.

Ia menilai, penguatan peran guru ngaji sejalan dengan amanat Konferensi Besar Nahdlatul Ulama Tahun 2024 yang menegaskan komitmen NU dalam memperjuangkan pemenuhan hak-hak dasar warga. 

Perlindungan sosial yang adil, kata dia, harus menyentuh para penggerak pendidikan keagamaan yang selama ini bekerja dalam kesederhanaan namun memiliki dampak besar bagi generasi bangsa.

Di hadapan para hadirin, Ning Lia juga berbagi kisah perjalanan hidupnya yang berangkat dari dunia pendidikan keagamaan. Ia mengungkapkan bahwa sebelum dipercaya mengemban amanah sebagai anggota DPD RI, dirinya pernah menapaki jalan yang sama sebagai guru ngaji dan pengajar Taman Pendidikan Al-Qur’an.

Pengalaman tersebut, lanjutnya, menjadi fondasi penting dalam membentuk kepekaan sosial dan tanggung jawab moral. Ia meyakini bahwa setiap tutur kata dan sikap seorang guru akan selalu direkam, ditiru, dan dimaknai oleh anak-anak didiknya dalam jangka panjang.

Menurut Ning Lia, mendidik tidak berhenti pada transfer ilmu semata. Seorang guru, khususnya guru ngaji, dituntut untuk menghadirkan keteladanan dalam keseharian. Nilai-nilai itulah yang kelak akan tumbuh menjadi karakter, sekaligus bekal bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan zaman.

Peringatan Harlah Gus Dur dan NU ini menjadi pengingat bahwa pesantren, guru ngaji, dan komunitas keagamaan memiliki peran besar dalam merawat warisan pemikiran Gus Dur yang menjunjung tinggi kemanusiaan, toleransi, dan keadilan sosial. 

Ning Lia berharap, melalui penguatan peran guru ngaji, nilai-nilai luhur tersebut dapat terus hidup dan relevan di tengah dinamika masyarakat modern.

Ia menutup pesannya dengan ajakan agar para guru ngaji tetap istiqamah menjalankan pengabdian, sembari terus mendorong negara dan organisasi keagamaan untuk hadir memberikan perlindungan dan penghargaan yang layak atas jasa mereka. 

Momentum peringatan ini, menurutnya, adalah titik temu antara refleksi sejarah dan ikhtiar bersama membangun masa depan yang lebih berkeadilan. (HR)

Ucapan Hari Jadi PERS Nasional

Ucapan Hari Jadi PERS Nasional
Anggota DPD RI/MPR - RI

Para Pembina Media Bayangkara Group

Para Pembina Media Bayangkara Group

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close