SURABAYA, mediabhayangkara.id – Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama, menyatakan kekhawatirannya terhadap masih rendahnya tingkat kebugaran jasmani anak dan pemuda di Indonesia. Hal tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja ke Kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Timur di Surabaya, Kamis (22/1/2025).
Dalam pertemuan tersebut, Ning Lia menekankan pentingnya penguatan olahraga masyarakat sebagai fondasi pembentukan generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Menurutnya, rendahnya kebugaran jasmani anak akan berdampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia, terutama di tengah tantangan masa depan yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian.
“Kalau kebugaran anak sudah rendah, apalagi untuk bicara prestasi, tentu akan semakin berat. Karena itu, perlu kejelasan dan sinkronisasi peran antara Kementerian Pemuda dan Olahraga, pemerintah provinsi, hingga kabupaten/kota,” ujar Ning Lia yang juga keponakan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa tersebut.
Ning Lia yang juga putri bungsu KH Maskur Hasyim itu menjelaskan, secara regulasi olahraga masyarakat telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2022 tentang Keolahragaan, yang menempatkan olahraga masyarakat sebagai salah satu kewenangan pemerintah provinsi. Dalam kerangka ini, pembinaan olahraga tidak hanya berorientasi pada prestasi melalui Komite Olahraga Nasional Indonesia, tetapi juga pada peningkatan partisipasi dan kebugaran masyarakat luas melalui induk organisasi olahraga masyarakat seperti Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
Namun demikian, pengaturan tersebut dinilai belum sepenuhnya selaras dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, yang berada dalam domain Kementerian Dalam Negeri. Ketidaksinkronan ini menyebabkan kewenangan provinsi dalam mendukung olahraga masyarakat, termasuk pembinaan dan pendanaan KORMI, belum berjalan optimal.
“Akibatnya, di daerah sering kali yang mendapatkan dukungan kuat hanya olahraga prestasi melalui KONI. Padahal, olahraga masyarakat yang menjadi hulu kebugaran justru belum mendapatkan dukungan payung hukum memadai dari pemerintah provinsi,” jelasnya.
Menurut Ning Lia, apabila olahraga masyarakat ditegaskan berada di bawah kewenangan provinsi secara sinkron antara regulasi Kemenpora dan Kemendagri, maka pembinaan KORMI di daerah akan lebih kuat dan berkelanjutan. Hal ini penting karena olahraga masyarakat berfungsi sebagai basis peningkatan literasi fisik, kebiasaan hidup aktif, serta pencegahan masalah kesehatan jangka panjang.
“Kalau olahraga masyarakat kuat, maka kebugaran meningkat, partisipasi naik, dan pada akhirnya prestasi juga akan mengikuti. Jangan sampai kita hanya fokus di hilir, sementara hulunya rapuh,” tegas Wakil Rakyat Terpopuler dan Paling Disukai di Jatim tersebut.
Ning Lia menambahkan, isu sinkronisasi regulasi ini akan terus diperjuangkan agar pemerintah daerah memiliki kepastian hukum dalam mengalokasikan program dan anggaran bagi olahraga masyarakat.
“Kami akan berjuang agar ada sinkronisasi regulasi antara pemerintah pusat, khususnya Kemenpora dan Kemendagri, sehingga kewenangan di daerah jelas dan tidak saling tumpang tindih,” tandas Ning Lia.
Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Provinsi Jawa Timur, M Hadi Wawan Guntoro memaparkan sejumlah data terkait kondisi kebugaran jasmani anak dan pemuda. Berdasarkan laporan terbaru, tingkat kebugaran jasmani anak usia 10–15 tahun pada 2024 memang menunjukkan peningkatan. Anak yang masuk kategori “baik ke atas” mencapai 10,2 persen, naik 3,42 persen dibandingkan tahun 2023 yang sebesar 6,78 persen.
Namun demikian, anak dengan kebugaran jasmani kategori “kurang sekali” masih tergolong tinggi, yakni 46,7 persen, sementara kategori “kurang” mencapai 24,3 persen. Kondisi tersebut dinilai masih sangat mengkhawatirkan.
“Anak-anak ini akan menghadapi masa depan dengan dinamika dan tekanan yang tinggi. Mereka tidak hanya membutuhkan kesehatan fisik, tetapi juga keseimbangan psikis karena olahraga kemasyarakatan ini membuat bahagia dan merakyat di tengah-tengah masyarakat,” kata Wawan.
Wawan mengatakan, berbagai penelitian menunjukkan aktivitas fisik dan olahraga berperan penting dalam meningkatkan fungsi otak, konsentrasi, kreativitas, hingga kemampuan pemecahan masalah. Anak yang aktif secara fisik cenderung memiliki kinerja kognitif dan prestasi akademik yang lebih baik.
Sementara itu, dari sisi pemuda, laporan Dispora mencatat tingkat literasi fisik berada pada skor 3,38 dari skala 1–5 atau kategori sedang. Tingkat partisipasi pemuda dalam berolahraga tercatat sebesar 30,9 persen, tertinggi dibandingkan kelompok usia lainnya. Meski demikian, tingkat kebugaran jasmani pemuda yang masuk kategori “baik ke atas” baru mencapai 6,9 persen, sedangkan kategori “kurang sekali” masih mendominasi hingga 58,2 persen.
“Data ini menunjukkan masih banyak pekerjaan rumah. Penguatan olahraga masyarakat harus menjadi prioritas kebijakan, karena kebugaran jasmani yang rendah berpotensi mengancam produktivitas dan angka harapan hidup generasi muda,” kata Wawan. (*/HR)


Social Footer