Breaking News

Ungkap pelaku teror ke Aktivis BEM UI, Pihak Rektorat UI Bentuk Tim Investigasi Gabungan Usut Tuntas Rangkaian Teror dan Ancaman Fisik

 


Jakarta, mediabhayangkara.id — Menanggapi rangkaian teror atas sejumlah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, mengatakan: 

“Teror ke para aktivis BEM itu mengancam kebebasan di kampus, termasuk meredam potensi gerakan mahasiswa untuk mengawal jalannya pemerintahan ke depan.

Teror ini mirip yang dialami aktivis Greenpeace dan pemengaruh media sosial akhir Desember lalu menyusul suara kritis mereka terhadap pemerintah. 

Teror ini tidak boleh kita lihat terbatas pada kontestasi pemilihan ketua BEM namun lebih besar lagi yaitu upaya melemahkan gerakan mahasiswa yang selama ini aktif mengontrol jalannya pemerintahan. Adalah wajar apabila mahasiswa mempertanyakan dugaan adanya campur tangan negara dalam kegiatan BEM termasuk pemilihan kepengurusan mereka.

Kami mendesak pemerintah untuk mengusut rangkaian teror yang dialami oleh mahasiswa UI maupun yang dialami aktivis dan sejumlah pemengaruh beberapa waktu lalu. 

Teror ini bertujuan menciptakan efek gentar. Ini berbahaya bagi kebebasan berekspresi. Kampus seharusnya menjadi tempat aman bagi kebebasan berpikir, berkumpul dan berpendapat secara kritis, bukan dibayangi oleh atmosfer ketakutan. 

Jika proses demokrasi kampus dicemari oleh ancaman maka ruang kebebasan akademik akan mengalami kematian pelan-pelan, dan akhirnya mematikan gerakan masyarakat. 

Inisiatif Rektorat UI untuk membentuk tim investigasi tidak dapat menggantikan peran pihak berwajib untuk mengungkap pelaku dan dalang di balik teror. 

Ancaman berjalan pada periode yang sama dengan kembalinya larangan kepada warga negara untuk bersuara kritis kepada negara dengan alasan-alasan yang berbau kolonial seperti penghinaan Presiden, pejabat negara, atau penghinaan instansi negara. Ini tidak boleh ditoleransi.”  

Latar belakang

Menurut sumber kredibel Amnesty, sejumlah mahasiswa Universitas Indonesia mengalami doksing, ancaman fisik, hingga teror berupa pengiriman paket misterius secara daring dan luring. Ancaman itu datang menyusul unggahan kritik dan perbincangan terkait ada tidaknya peran seorang politisi dan juga aparat dalam kegiatan BEM UI, termasuk di dalam hal Pemilihan Raya (Pemira) UI 2026, yang memilih kepemimpinan baru Badan Eksekutif Mahasiswa UI. 

Seorang Project Officer (PO) Pemira UI mengaku menerima berbagai bentuk teror siber dan fisik sehari setelah Grand Closing Pemira UI pada 12 Januari lalu. Salah satu serangan adalah pesan peringatan yang dikirimkan oleh pelaku melalui WhatsApp.

Pelaku juga memperingatkan korban agar tidak berpihak kepada salah satu pasangan calon (paslon). Korban pun menerima teror berupa kiriman kardus beserta tuntutan untuk memenangkan paslon lain, disertai ancaman akan memberi "balasan" apabila tuntutan tersebut tidak dipenuhi. Korban juga mengaku mengalami teror fisik di lingkungan UI pada Selasa dini hari (13/1) oleh seorang pengendara sepeda motor tak dikenal. 

Sambil menodongkan pistol, dia menghardik korban, "Awas aja lu macam-macam!" Ketua dan Wakil Ketua BEM UI terpilih, masing-masing berinisial YMI dan FA, mendapat teror serta ancaman pembunuhan sehari setelah Pemira, 13 Januari 2026.  

YMI mengaku akunnya di WhatsApp sempat coba diretas. Serangan peretasan menimpa akun WA kakaknya, dengan dikirimi pesan teror berupa foto-foto agar YMI mundur dari jabatannya sebagai ketua BEM.

Pesan itu juga disertai ancaman pembunuhan.  

YMI juga mendapat kiriman paket-paket cash on delivery (COD) berupa topeng dengan tagihan dari Rp 600 ribu sampai Rp1,8 juta.  

Wakil Ketua BEM terpilih, FA, juga mengaku dia dan keluargannya mendapat teror serupa. Nomor ayahnya diretas orang tak dikenal untuk menyebarkan pesan serta video ancaman, termasuk ilustrasi FA sebagai target eksekusi. FA juga mengaku menerima kiriman dua paket tak dikenal, yang masing-masing berisi alat pemotong tanaman dan sebuah kursi roda.  

Sejumlah mahasiswa UI lainnya yang tidak terkait langsung dengan kegiatan Pemira pun mengalami teror dan serangan digital. Setidaknya dua korban lainnya mengaku menerima serangan doksing dan teror kiriman paket tak dikenal setelah berpendapat maupun sekadar membagikan kutipan twit (quote retweet) terkait Pemira di media sosial.  

Sementara itu, pihak rektorat UI membentuk tim investigasi gabungan untuk mengusut rangkaian teror dan ancaman fisik serta mendampingi mahasiswa korban untuk melapor ke kepolisian. (Red)

Para Pembina Media Bayangkara Group

Para Pembina Media Bayangkara Group

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolsek Bubutan Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Kapolrestabes Surabaya

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close