SURABAYA, mediabhayangkara.id – Sorotan publik terkait besarnya biaya pendidikan per awardee LPDP yang disebut mencapai miliaran rupiah mendapat tanggapan dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama. Ia memilih merefleksikan pengalaman pribadinya menempuh pendidikan tinggi di dalam negeri dengan biaya yang relatif terjangkau.
“Kalau saya menghitung dari S1 sampai S3, dana pribadi yang saya keluarkan mungkin sekitar Rp30 juta. Bahkan S1 dulu per semester tidak sampai Rp1,5 juta. Alhamdulillah biaya kuliah saya jutaan saja,” ujar Ning Lia saat ditemui di Surabaya, Rabu (25/02/26).
Lia menjelaskan, saat menempuh S1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya, Universitas Airlangga (Unair), dan STID Taruna Surabaya, biaya kuliahnya relatif ringan. Di IAIN sekitar Rp450 ribu per semester, Unair sekitar Rp750 ribu, dan STID Taruna sekitar Rp200 ribu.
“Intinya tidak sampai satu setengah juta per semester waktu itu. Bahkan saat skripsi, saya bekerja untuk membiayai kuliah sendiri,” tuturnya.
Untuk jenjang magister (S2), Lia memperoleh beasiswa studi dalam negeri sehingga tidak mengeluarkan biaya pribadi. Sedangkan saat menempuh S3, ia mendapatkan bantuan Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPP) selama satu tahun, meskipun tetap ada dana pribadi yang dikeluarkan hingga belasan juta rupiah.
Menurut Lia, pengalamannya menjadi bukti bahwa pendidikan tidak harus mahal dan tidak selalu identik dengan studi luar negeri.
“Pendidikan itu tidak perlu gengsi. Yang penting keberkahan dan kesungguhan. Banyak alumni perguruan tinggi dalam negeri yang menjadi tokoh nasional dan berkontribusi besar untuk bangsa,” tegasnya.
Ia menambahkan, kebijakan pembiayaan pendidikan perlu mempertimbangkan efektivitas serta pemerataan manfaat. Penguatan perguruan tinggi dalam negeri, menurutnya, harus menjadi prioritas agar semakin kompetitif dan menjadi pilihan utama generasi muda.
“Kalau tujuannya membangun negeri, yang utama adalah integritas dan pengabdian, bukan sekadar mahalnya biaya atau lokasi studi,” pungkasnya. (HR)

Social Footer